From 1000 goto 2000



PERILAKU REMAJA ZAMAN SEKARANG

KLO berani satu lawan satu! Itu ungkapan spontan yang dikeluarkan para remaja sebelum tawuran antar-pelajar, mahasiswa, bahkan pejabat teras ataupun aksi yang kini marak dikategorikan sebagai tindakan premanisme. Di antara ungkapan itu, ada persamaan yang jelas terlihat. Pelaku yang terlibat umumnya kaum adam. Jelas, jika ungkapan itu sangat lazim diucapkan. Tapi persamaan lainnya, mereka umumnya golongan remaja. Tapi bagaimana jika pelakunya kaum hawa? Yang menarik dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang mereka mengeluarkan ucapan yang sering dilontarkan oleh kaum adam, kaum hawa yang konon sering dikategorikan sebagai kaum yang lemah!

Sebenarnya itu bukan hal baru . bahkan diantara banyak kasus Penganiayaan itu lebih beken disebut salah satu tindakan penggencetan. Penggencetan itu sendiri tidak hanya dilakukan dengan kontak fisik, tapi bisa hanya dengan teguran keras, atau teror lewat sms atau media lainnya.

Tidak bisa dipungkiri, hal itu sudah menjadi tradisi dari senior kepada junior yang dilakukan karena banyak alasan. Mulai dari alasan yang jelas sampai alasan yang lucunya tidak disebutkan si senior sampai kapanpun! Ya.. seperti tayangan di sinetron remaja yang lagi “in” sekarang ini!

Perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam dua jenis delikuensi, yaitu situasional dan sistematik.

Pada delikuensi situsional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang mengharuskan mereka untuk berkelahi. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada dalam satu geng atau organisasi. Di sini ada norma, aturan, dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti anggota termasuk berkelahi.

Sebagai anggota mereka bangga melakukan apa yang diharapkan. Kejadian itu berkaitan dengan emosinya yang dikenal dengan masa strom dan stress. Dipengaruhi lingkungan tempat tinggal, keluarga, dan teman sebaya serta semua kegiatan sehari-hari.

Memotivasi diri

Goleman (1997) mengatakan, koordinasi suasana hati inti dari hubungan sosial yang baik. Seorang yang pandai menyesuaikan diri atau dapat berempati, ia memiliki tingkat emosionalitas yang baik. Kecerdasan emosional lebih untuk memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa.

Lima wilayah kecerdasan emosional sebagai pedoman setiap individu, untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari. Yakni mengenali emosi, kesadaran diri dalam mengenali perasaan ketika perasaan itu terjadi sebagai dasar kecerdasan emosi, sehingga kita bisa peka pada perasaan sesungguhnya dan tepat dalam pengambilan keputusan masalah.

Mengelola emosi, berarti menangani perasaan agar perasaan terungkap dengan tepat memotivasi diri mengenali emosi orang lain empati atau mengenal emosi orang lain, dibangun berdasar pada kesadaran diri. Orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosi sendiri, dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain.

Membina hubungan dengan orang lain, sebagai makluk sosial, individu dituntut dapat menyelesaikan masalah dan mampu menampilkan diri, sesuai aturan yang berlaku. Karena itu remaja agar memahami dan mengembangkan keterampilan sosialnya.

Kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan sosial akan menyebabkan ia sulit meyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sehingga timbul rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku normatif (misalnya, asosial ataupun anti-sosial). Bahkan lebih ekstrem biasa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, tindakan kekerasan, dsb.

Beberapa aspek yang menuntut keterampilan sosial (dalam Davis dan Forsythe, 1984). Yaitu keluarga, hal yang paling penting diperhatikan orang tua, menciptakan suasana demokratis dalam keluarga. Sehingga remaja dapat menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua dan saudara.

Lingkungan, pengenalan lingkungan lebih luas dari keluarga. Kepribadian, diberikan penanaman sejak dini, nilai-nilai yang menghargai harkat dan martabat orang lain tanpa mendasarkan pada hal fisik seperti materi dan penampilan. Rekreasi, pergaulan dengan lawan jenis, pendidikan, persahabatan dan solidaritas kelompok.

Remaja diajarkan lebih memahami diri sendiri (kelebihan dan kekurangannya), agar ia mampu mengendalikan dirinya. Sehingga dapat bereaksi secara wajar dan normatif, dibiasakan untuk menerima orang lain, tahu dan mau mengakui kesalahannya.

Dengan cara itu remaja tidak akan terkejut menerima kritik atau umpan balik dari sekitar, mudah bersosialisasi, memiliki solidaritas tinggi, diterima di lingkungan lain. Sehingga akan mampu membantu menemukan dirinya sendiri dan mampu berperilaku sesuai norma yang berlaku.

Sumber :

1. http://h4b13.wordpress.com/2008/01/14/perilaku-remaja-zaman-sekarang/


Trackbacks & Pingbacks

Komentar

  1. * Nihaya says:

    PACARAN
    NGGAK YACH…???

    Ngomongin hal satu ini emang bikin penasaran. “ Seneng sama lawan jenis kan Fitrah. Masa sich nggak boleh ?”,Ehm…Siapa yang bilang nggak boleh? Tapi apakah sarananya harus pacaran?Baca Bareng Yuk…!!!

    EMOSI CINTA……
    Menurut para peneliti,yang dimuat Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, cinta adalah salah satu emosi yang ada pada manusia. Emosi cinta ini mengandung beberapa emosi lain seperti penerimaan,persahabatan,kepercayaan,kebaikan hati,rasa dekat,hormat,kasmaran dan kasih.
    Nah….dari emosi-emosi turunannya itu, jelas terlihat kalau perwujudan cinta lebih luas sifatnya, bukan sekedar kasmaran saja. persahabatan,penerimaan,kebaikan hati dsb bisa kita ekspresikan tanpa harus pacaran. “ Tapi kita ‘kan butuh cewe “???
    Iya, kita juga butuh,hehehe. Lantas,apakah karena butuh terus kita jadi menerobos batas yang telah diatur Allah untuk menjaga kita.

    WAJAR AJACH……
    Yap, wajar ajach kalau kita seneng dengan lawan jenis. Fitrah,betul itu!! Tapi fitrah bukan bearti harus dituruti sehingga tak terkontrol. Kita harus tetap menjaga fitrah agar tetap murni dan tak terkotori dengan nafsu sesaat. Cinta itu sendiri terbagi menjadi dua: Cinta yang syar’i dan cinta yang tidak syar’i. Cinta yang syar’i dasarnya adalah iman. Buka dech QS.3 : 15, 52 : 21 dan 3 : 170. Sedangkan cinta yang tidak syar’i dasarnya adalah syahwat. Untuk yang silakan antum buka QS.3:14.80:34 – 37 dan 43 :67.
    Kalau di stiker – stiker kamu sering baca Cinta Allah,Rasul dan jihad Fi Sabilillah,itu bener adanya. Urutan itulah yang utama. Allah membenarkan cinta yang sifatnya Shahwati seperti di QS.3 :14 ( Wanita / Pria,anak,harta dsb ) sebab kecintaan yang sifatnya shahwati ini adalah tabi’at manusia. Nah,kecintaan inilah yang perlu dikendalikan. Gimana cara mengendalikannya ?

    JAGALAH HATI……..
    Ingat kisah fatimah ra, putri rasulullah SAW. Setelah menikah dengan Ali bin abi thalib ra, Fatimah mengaku pernah menyukai seorang laki – laki ketika ditanya Ali, siapa laki- laki itu, Fatimah menjawab lelaki itu adalah sebenarnya engkau ya ali, ( ehem…ehem..) kaget ali. ( kirain siapa ) ternyata ali nggak tau bahwa dihati fatimah sebenarnya ia suka sama ali sejak dahulu. Bisa ditarik kesimpulan, sebenarnya sudah ada bibit cinta pada diri fatimah terhadap ali, tapi toh beliau nggak lantas jadi kasmaran dan mengekspresikan cintanya dengan “ suka – suka gue “.Beliau simpan rasa itu, menata dengan rapi dan mengekspresikan saat memang sudah halal untuk diekspresikan, yaitu saat telah menikah…(cie…cie…romantis buanget yach..) aduh kayanya jauh buanget yach…? Nggak juga kok,karena itulah kwendalinya.Kalau belum siap menikah ? Ya,jangan main api,lebih baik main air saja biar sejuk,Gimana ‘main airnya?

     Jaga pergaulan, Bukan bearti nggak boleh gaul sama cowok atau cewe,tapi jaga pandangan ( bukan bearti nunduk terus )
     Kalo menyukai lawan jenis cukup pada tahap simpati,jaga hati,kalau nggak tahan jauhi diri dari orang yang kita sukai. buanyak – buanyak puasa deh…
     Buanyak ikut kegiatan buat ngalihin diri,kurangi interaksi yang kurang jelas dengan lawan jenis eit, tapi ingat,disetiap tempat kita pasti bertemu dengan lawan jenis, jadi solusi utama memang menjaga diri.
     Buanyakin teman (yang sejenis lho..) dan cobolah untuk terbuka dengan teman itu. jadi kamu nggak merasa kesepian. Cuma akal – akalan si setan kok kalo kamu punya teman lawan jenis lebih enak daripada sejenis.. ngibul kali ya si setan.
     Masih nggak kuat dan tetap ingin pacaran? ya silakan ajach dech..tapi tanggung resikonya ( kamu kan udah baligh ) harap diketahui, api neraka itu panas,meski dimusim hujan,Dosa besar itu awalnya dari kumpulan dosa kecil. dan kita sudah ngingetin…nah lho…!!!

    Sekarang semua tergantung pada kita, ingat lho…orang yang memang bebar-benar sayang tidak akan menjerumuskan kita ke jurang api nerakam tul ga?

    | Balas Ditulis 7 years, 9 months ago


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: